
🌳 KTT Iklim Global 2025 Hasilkan Terobosan Penting di Manaus, Brasil
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim Dunia 2025 yang digelar di Manaus, Brasil, mencetak sejarah dengan penandatanganan “Pakta Amazon” oleh 95 negara. Kesepakatan ini berfokus pada perlindungan hutan hujan tropis, restorasi kawasan rusak, dan pembiayaan hijau untuk negara-negara pemilik hutan. Ini dianggap sebagai pencapaian besar dalam upaya melindungi paru-paru dunia di tengah meningkatnya laju deforestasi dan krisis iklim global.
🔍 Apa Itu Pakta Amazon?
Pakta Amazon adalah perjanjian multilateral yang berisi komitmen:
- Menghentikan deforestasi ilegal hingga nol pada tahun 2030
- Melindungi minimal 80% hutan asli Amazon dan hutan tropis dunia
- Memberikan insentif keuangan untuk negara berkembang melalui skema “carbon credit berbasis konservasi”
- Meningkatkan peran masyarakat adat sebagai penjaga hutan resmi
- Menetapkan sanksi dagang untuk negara yang gagal menurunkan deforestasi
Presiden Brasil, Marina Silva, menyatakan:
“Dunia tidak bisa menyelamatkan iklim tanpa menyelamatkan hutan.”
📈 Situasi Krisis: Laju Deforestasi Semakin Meningkat
Data satelit dari Global Forest Watch menunjukkan:
- Amazon kehilangan sekitar 4 juta hektare hutan primer antara 2020–2024
- Deforestasi di Afrika Tengah dan Asia Tenggara juga meningkat akibat ekspansi kelapa sawit, kayu, dan pertambangan
- Hutan tropis menyerap sekitar 30% karbon global setiap tahunnya, namun daya serap ini turun 12% sejak 2010
Jika tidak ada langkah radikal, banyak ahli memperkirakan hutan Amazon akan mencapai tipping point pada 2035, berubah dari penyerap karbon menjadi penyumbang karbon.
💰 Pendanaan dan Dukungan Internasional
Pakta Amazon didukung oleh sejumlah negara dan lembaga keuangan global:
- Uni Eropa dan Kanada menjanjikan pendanaan sebesar USD 10 miliar dalam 5 tahun
- Bank Dunia meluncurkan program Green Sovereign Fund senilai USD 50 miliar untuk restorasi hutan
- Amazon, Google, dan Microsoft berkomitmen mendanai proyek reforestasi berbasis AI dan blockchain
- Negara-negara seperti Norwegia dan Jepang menawarkan transfer teknologi satelit dan deteksi dini kebakaran
🧭 Peran Indonesia dan Negara Tropis Lainnya
Indonesia, Kongo, Brasil, dan Peru—empat negara dengan hutan tropis terbesar—menyatakan pembentukan Aliansi Tropis Dunia, sebuah blok baru untuk:
- Menyuarakan kepentingan negara selatan global dalam negosiasi iklim
- Menghindari eksploitasi karbon oleh negara maju
- Meningkatkan peran lokal dalam tata kelola hutan dan konservasi
Presiden Indonesia menyatakan komitmen untuk:
- Melindungi 65% kawasan hutan primer
- Memperluas hutan adat hingga 20 juta hektare
🌿 Reaksi Aktivis dan Masyarakat Adat
Koalisi aktivis lingkungan seperti Greenpeace dan WWF menyambut baik, tetapi juga mengingatkan:
“Kesepakatan kertas tanpa aksi di lapangan hanya akan mempercepat kehancuran.”
Sementara itu, pemimpin adat dari Amazon dan Papua menyerukan keterlibatan lebih besar dalam pengambilan keputusan, pembagian dana, dan perlindungan hak tanah leluhur.
📌 Kesimpulan
KTT Iklim Dunia 2025 di Brasil telah memunculkan harapan baru bagi perlindungan hutan tropis dan keadilan iklim global. Dengan Pakta Amazon sebagai pilar utamanya, dunia kini menghadapi tantangan besar: memastikan komitmen berubah menjadi tindakan nyata demi menyelamatkan bumi dari krisis yang semakin mendesak.