Jakarta, 12 September 2026 – Ketua MPR RI periode 2019–2024 Bambang Soesatyo atau Bamsoet mendorong Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI) memiliki garis besar haluan perjuangan jangka panjang sebagai pedoman organisasi menghadapi perubahan zaman. Gagasan tersebut disampaikan dalam momentum Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) FKPPI yang menjadi forum konsolidasi sekaligus evaluasi terhadap arah organisasi. Menurut Bamsoet, organisasi besar membutuhkan visi yang tidak berhenti pada satu periode kepengurusan sehingga setiap program dapat berjalan secara berkesinambungan. Haluan tersebut diharapkan menjadi rujukan bagi pengurus pusat maupun daerah dalam menentukan prioritas gerakan. FKPPI juga dinilai perlu terus memperkuat perannya dalam menjaga persatuan, kebangsaan, serta kontribusi nyata kepada masyarakat. Perubahan lingkungan strategis membuat organisasi harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai dasar yang menjadi identitasnya.
Bamsoet memandang Rapimnas memiliki posisi penting untuk menyelaraskan pandangan seluruh jajaran organisasi. Forum tersebut tidak hanya digunakan untuk membahas program kerja dalam jangka pendek, tetapi juga dapat menjadi ruang merumuskan agenda yang lebih jauh ke depan. Menurutnya, pergantian kepengurusan tidak seharusnya membuat arah perjuangan organisasi berubah secara drastis setiap beberapa tahun. Program dapat disesuaikan dengan kebutuhan zaman, tetapi tujuan besarnya harus memiliki kesinambungan. Karena itu, garis besar haluan perjuangan dinilai dapat menjadi fondasi agar seluruh kepengurusan memiliki arah yang sama. Setiap daerah kemudian dapat menerjemahkan haluan tersebut berdasarkan karakter dan tantangan wilayah masing-masing.
Gagasan mengenai haluan jangka panjang juga berkaitan dengan perubahan sosial, ekonomi, politik, dan teknologi yang berlangsung cepat. Organisasi kemasyarakatan kini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan ketika FKPPI pertama kali berkembang. Digitalisasi telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, memperoleh informasi, membangun jaringan, dan menyampaikan aspirasi. Pada saat yang sama, ruang digital membawa tantangan berupa penyebaran informasi palsu, polarisasi, serta berbagai bentuk provokasi. FKPPI dinilai memiliki peluang mengambil peran melalui pendidikan kebangsaan dan literasi digital kepada anggotanya. Kader organisasi diharapkan mampu menjadi bagian dari masyarakat yang menjaga ruang publik tetap sehat dan tidak mudah terpengaruh informasi yang dapat memecah persatuan.
Bamsoet juga menekankan pentingnya regenerasi dalam menjaga keberlanjutan organisasi. FKPPI memiliki basis anggota lintas generasi sehingga proses kaderisasi perlu dilakukan secara sistematis agar generasi muda memperoleh ruang lebih besar. Mereka tidak cukup hanya diperkenalkan pada sejarah organisasi, tetapi juga perlu dibekali kemampuan menghadapi persoalan kontemporer. Pendidikan kepemimpinan, kemampuan organisasi, kewirausahaan, teknologi, serta wawasan kebangsaan dapat menjadi bagian dari penguatan kader. Dengan cara tersebut, regenerasi tidak sekadar mengganti orang dalam struktur kepengurusan. Generasi baru diharapkan mampu membawa inovasi sekaligus mempertahankan nilai yang telah dibangun organisasi selama puluhan tahun.
Posisi FKPPI yang memiliki hubungan historis dengan keluarga besar TNI dan Polri juga dinilai membawa tanggung jawab tersendiri. Nilai kedisiplinan, pengabdian, nasionalisme, dan kepedulian terhadap kepentingan bangsa diharapkan terus menjadi bagian dari karakter organisasi. Namun, nilai tersebut harus diterjemahkan dalam kegiatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Kontribusi dapat dilakukan melalui kegiatan sosial, pendidikan, penanggulangan bencana, pemberdayaan ekonomi, hingga penguatan ketahanan masyarakat. Organisasi dengan jaringan luas memiliki kemampuan menggerakkan anggota secara cepat ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Haluan jangka panjang dapat membantu memastikan berbagai kegiatan tersebut tidak berjalan secara terpisah tanpa tujuan yang jelas.
Penguatan ekonomi anggota juga menjadi salah satu bidang yang dapat ditempatkan dalam agenda jangka panjang. FKPPI memiliki jaringan anggota di berbagai daerah dengan latar belakang profesi dan usaha yang beragam. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui kerja sama antarpelaku usaha, peningkatan keterampilan, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah. Organisasi dapat berfungsi sebagai penghubung yang mempertemukan anggota dengan akses pelatihan, pembiayaan, pasar, maupun teknologi. Kemandirian ekonomi dinilai penting agar organisasi memiliki anggota yang kuat sekaligus mampu memberikan manfaat lebih luas kepada lingkungan sekitar. Program ekonomi yang dirancang berkesinambungan juga dapat memberikan hasil lebih nyata dibandingkan kegiatan yang hanya berlangsung pada satu periode kepengurusan.
Rapimnas turut menjadi kesempatan untuk mengevaluasi efektivitas struktur organisasi dari tingkat pusat hingga daerah. Jaringan yang luas membutuhkan komunikasi yang berjalan dua arah agar kebijakan pusat dapat dipahami sekaligus aspirasi daerah dapat diterima dengan baik. Teknologi digital dapat digunakan untuk mempercepat koordinasi, pendataan anggota, dan pelaksanaan berbagai program. Basis data yang akurat juga membantu organisasi mengetahui potensi sumber daya yang dimiliki. Dengan sistem yang semakin terintegrasi, pengurus dapat mengukur capaian program secara lebih objektif. Evaluasi berkala kemudian menjadi dasar untuk menentukan kegiatan yang perlu diteruskan, diperbaiki, maupun dihentikan.
Bamsoet menilai haluan perjuangan tidak harus membuat organisasi menjadi kaku menghadapi perubahan. Sebaliknya, dokumen tersebut dapat menetapkan tujuan besar sementara strategi pencapaiannya tetap dapat disesuaikan dengan kondisi setiap periode. Tantangan nasional dalam lima tahun mendatang tentu dapat berbeda dengan situasi dua atau tiga dekade berikutnya. Karena itu, haluan perlu memiliki ruang untuk dievaluasi secara berkala tanpa kehilangan prinsip dasarnya. Mekanisme evaluasi juga dapat mencegah organisasi menjalankan program yang sudah tidak relevan dengan kebutuhan anggota maupun masyarakat. Dengan keseimbangan antara konsistensi dan fleksibilitas, FKPPI diharapkan mampu mempertahankan identitas sekaligus terus berkembang.
Peran generasi muda menjadi semakin penting karena masa depan organisasi pada akhirnya berada di tangan kader yang saat ini mulai aktif dalam berbagai tingkatan. Mereka tumbuh dalam lingkungan digital dan memiliki cara berbeda dalam melihat organisasi maupun persoalan kebangsaan. FKPPI perlu memberikan kesempatan kepada kader muda menyampaikan gagasan serta terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Kolaborasi antara pengalaman generasi senior dan inovasi generasi muda dapat memperkuat organisasi. Transfer pengetahuan juga diperlukan agar pengalaman panjang FKPPI tidak terputus ketika terjadi pergantian kepemimpinan. Proses tersebut dapat menjadi salah satu bagian penting dalam rancangan haluan perjuangan jangka panjang.
Dorongan Bamsoet dalam Rapimnas pada akhirnya diarahkan agar FKPPI memiliki pedoman yang mampu menjaga kesinambungan organisasi melampaui pergantian kepengurusan. Garis besar haluan perjuangan diharapkan memuat visi mengenai kaderisasi, kebangsaan, penguatan ekonomi, transformasi digital, pengabdian sosial, serta berbagai tantangan strategis lainnya. Setiap program kerja kemudian dapat disusun sebagai tahapan untuk mencapai tujuan jangka panjang tersebut. Dengan jaringan yang tersebar di berbagai daerah, FKPPI dinilai memiliki modal besar untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat dan negara. Tantangannya adalah memastikan potensi tersebut dikelola melalui arah yang jelas, terukur, dan konsisten. Rapimnas menjadi momentum bagi organisasi untuk memperkuat konsolidasi sekaligus merancang bagaimana FKPPI tetap relevan dan memberikan manfaat dalam perjalanan Indonesia pada masa mendatang.





