Jakarta, 11 September 2026 – Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) meminta aparat penegak hukum mengusut secara menyeluruh penembakan yang menewaskan tiga aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Peristiwa tersebut terjadi ketika para korban menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat dan dalam perjalanan kembali ke Wamena. KemenHAM memandang insiden yang menyebabkan hilangnya nyawa warga sipil harus mendapat perhatian serius serta ditangani melalui proses hukum yang profesional. Aparat diminta memastikan pihak yang bertanggung jawab dapat diidentifikasi berdasarkan bukti yang ditemukan di lapangan. Penyelidikan juga diharapkan mampu mengungkap motif dan rangkaian kejadian secara jelas sehingga tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan. Perlindungan terhadap warga sipil dan petugas pemerintah yang menjalankan pelayanan publik dinilai harus menjadi prioritas dalam situasi keamanan di Papua.
Tiga korban diketahui merupakan pegawai yang bekerja di lingkungan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Mereka adalah Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Meha, dan Willi Mbuik yang berada dalam rombongan bersama sejumlah rekan kerja lainnya. Saat kejadian, rombongan baru menyelesaikan kegiatan penyaluran bantuan pangan dan ternak kepada masyarakat di Kampung Kimbim, Distrik Asologaima. Setelah kegiatan selesai, mereka melakukan perjalanan kembali menuju Wamena melalui wilayah Distrik Muliama. Dalam perjalanan tersebut, rombongan dihadang kelompok bersenjata sebelum tiga orang di antaranya mengalami penembakan hingga meninggal dunia. Rekan korban yang selamat kemudian dimintai keterangan untuk membantu aparat memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai kejadian.
Berdasarkan penyelidikan awal aparat keamanan, pelaku penembakan diduga berasal dari kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah Ndugama. Satgas Operasi Damai Cartenz masih melakukan pendalaman untuk memastikan identitas individu yang terlibat langsung dalam penembakan tersebut. Aparat tidak ingin terburu-buru menyimpulkan sebelum seluruh keterangan saksi, barang bukti, dan hasil olah tempat kejadian perkara diperiksa. Penelusuran juga dilakukan untuk mengetahui jumlah pelaku, posisi mereka saat menghadang rombongan, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain. Langkah itu menjadi penting karena identifikasi yang akurat akan menentukan proses hukum selanjutnya. Aparat keamanan juga terus melakukan penyisiran di sekitar wilayah kejadian untuk mencari petunjuk tambahan yang berkaitan dengan kelompok pelaku.
Informasi awal menyebut rombongan korban sempat dipisahkan berdasarkan latar belakang sebelum penembakan terjadi. Fakta tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu didalami karena dapat memberikan petunjuk mengenai motif maupun pola tindakan kelompok bersenjata. KemenHAM menilai setiap tindakan kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan, terlebih ketika korban sedang menjalankan tugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Penembakan terhadap ASN juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan petugas pemerintah yang harus bekerja di wilayah dengan tingkat kerawanan keamanan tinggi. Pemerintah perlu memastikan mereka memiliki perlindungan dan prosedur keamanan memadai ketika menjalankan tugas lapangan. Peristiwa ini karena itu tidak hanya menjadi persoalan penegakan hukum, tetapi juga evaluasi terhadap sistem perlindungan bagi petugas pelayanan publik di daerah rawan konflik.
Ketiga korban sebelumnya membawa bantuan yang ditujukan untuk mendukung masyarakat melalui program Dinas Pertanian Jayawijaya. Kegiatan mereka berkaitan dengan penyaluran bantuan ternak serta pelaksanaan program pertanian di wilayah pedalaman. Tugas semacam itu menuntut pegawai pemerintah melakukan perjalanan melewati sejumlah daerah dengan kondisi geografis maupun keamanan yang berbeda. Penembakan kemudian menjadi pukulan bagi keluarga korban sekaligus jajaran pemerintah daerah karena pegawai kehilangan nyawa ketika sedang melaksanakan tugas. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya ketiga pegawai tersebut. Pemerintah berharap proses penegakan hukum dapat segera memberikan kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
KemenHAM menilai penyelidikan harus berjalan dengan tetap memperhatikan prinsip hukum dan hak asasi manusia. Tindakan terhadap pelaku harus dilakukan berdasarkan bukti yang cukup serta tidak menimbulkan dampak terhadap masyarakat yang tidak terlibat. Perlindungan warga sipil tetap menjadi hal penting ketika aparat melakukan operasi keamanan maupun pengejaran terhadap kelompok bersenjata. Pendekatan tersebut diperlukan agar upaya penegakan hukum tidak memunculkan persoalan baru di tengah masyarakat. Pemerintah juga perlu menjaga komunikasi dengan tokoh masyarakat, pemerintah daerah, dan unsur lokal untuk memperoleh informasi sekaligus memastikan situasi tetap kondusif. Penanganan yang transparan diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum yang dilakukan aparat.
Situasi keamanan di sejumlah wilayah Papua Pegunungan selama ini memang menghadirkan tantangan bagi pelayanan pemerintahan. Aparatur sipil, tenaga kesehatan, guru, pekerja pembangunan, dan masyarakat dapat menghadapi risiko ketika aktivitas kelompok bersenjata meningkat. Kondisi geografis yang sulit dijangkau juga membuat proses evakuasi maupun respons keamanan membutuhkan waktu dan koordinasi lebih besar. Pemerintah karena itu perlu memperkuat pemetaan risiko sebelum mengirim petugas menuju wilayah dengan tingkat kerawanan tertentu. Pengawalan dapat dipertimbangkan ketika terdapat informasi mengenai ancaman keamanan dalam jalur yang akan dilalui. Sistem komunikasi juga harus dipastikan berfungsi agar petugas dapat segera meminta bantuan apabila menghadapi keadaan darurat. Evaluasi tersebut dapat menjadi salah satu langkah mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
KemenHAM sebelumnya berulang kali menekankan bahwa konflik bersenjata di Papua tidak boleh mengorbankan masyarakat sipil. Setiap pihak yang terlibat dalam situasi konflik mempunyai kewajiban menghormati kehidupan dan keselamatan warga yang tidak terlibat dalam kekerasan. Pembunuhan di luar proses hukum merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia. Karena itu, insiden terhadap ASN Dinas Pertanian Jayawijaya perlu ditempatkan sebagai perkara serius yang membutuhkan pertanggungjawaban. Pengusutan tidak hanya diperlukan untuk memberikan keadilan kepada keluarga korban, tetapi juga untuk mencegah terbentuknya pola impunitas terhadap kekerasan. Kepastian hukum dapat menjadi salah satu unsur penting untuk membangun rasa aman bagi masyarakat maupun petugas pemerintah yang masih harus bekerja di wilayah tersebut.
Aparat keamanan hingga kini terus memburu pelaku sembari melengkapi hasil penyelidikan. Pemeriksaan terhadap saksi yang selamat menjadi salah satu bagian penting karena mereka berada bersama korban ketika peristiwa terjadi. Keterangan tersebut dapat membantu menjelaskan bagaimana rombongan dihentikan, tindakan yang dilakukan pelaku, serta arah kelompok setelah penembakan. Hasil olah tempat kejadian perkara juga diperlukan untuk menemukan bukti balistik maupun benda lain yang dapat memperkuat identifikasi pelaku. Seluruh informasi selanjutnya dapat dianalisis bersama data intelijen yang telah dimiliki aparat mengenai aktivitas kelompok bersenjata di kawasan tersebut. Proses tersebut diharapkan menghasilkan kesimpulan yang kuat sehingga penindakan dapat dilakukan secara tepat sasaran. Pemerintah daerah juga diharapkan terus berkoordinasi dengan aparat untuk menjaga keamanan pegawai yang menjalankan tugas pelayanan.
KemenHAM berharap tragedi di Jayawijaya dapat menjadi momentum memperkuat perlindungan warga sipil sekaligus petugas pemerintah di Papua. Pengungkapan perkara secara tuntas diperlukan untuk memastikan tiga ASN yang meninggal saat menjalankan tugas memperoleh keadilan. Pemerintah juga perlu memastikan keluarga korban mendapatkan perhatian dan pendampingan setelah kehilangan anggota keluarga dalam peristiwa tersebut. Pada saat bersamaan, pelayanan pertanian dan bantuan kepada masyarakat tidak boleh berhenti akibat munculnya ancaman keamanan. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat setempat menjadi penting untuk menjaga agar kegiatan pelayanan publik tetap dapat berlangsung. Dengan penyelidikan yang transparan dan langkah keamanan yang terukur, pemerintah diharapkan dapat mencegah terulangnya serangan serupa sekaligus memperkuat perlindungan terhadap masyarakat di Papua Pegunungan.





