Jakarta, 9 September 2026 – Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth bersama jajaran Kecamatan Grogol Petamburan membagikan masker gratis kepada pengguna jalan sebagai langkah antisipasi terhadap paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kegiatan tersebut menyasar pejalan kaki, pengendara sepeda motor, pengemudi kendaraan roda empat, serta warga yang beraktivitas di sekitar Jalan Prof. Dr. Latumenten, Jakarta Barat. Pembagian dilakukan di kawasan depan Rumah Sakit Soeharto Heerdjan yang menjadi salah satu titik dengan mobilitas masyarakat cukup tinggi. Kenneth mengatakan langkah tersebut dilakukan karena partikel abu dan debu masih berpotensi mengganggu masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker diharapkan menjadi perlindungan dasar untuk mengurangi kemungkinan partikel masuk ke saluran pernapasan.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 2.000 masker dibagikan kepada masyarakat yang melintas di kawasan Latumenten. Distribusi dilakukan bersama perangkat Kelurahan Grogol dan Jelambar sehingga pembagian dapat berlangsung secara terkoordinasi tanpa mengganggu arus lalu lintas. Masker diberikan kepada pengguna kendaraan roda dua, roda tiga dan roda empat, selain kepada pejalan kaki serta masyarakat sekitar. Petugas juga memberikan edukasi singkat mengenai pentingnya menggunakan masker dengan benar ketika kondisi udara berpotensi terpengaruh abu vulkanik. Masyarakat turut diingatkan menjaga kebersihan diri setelah beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan partikel yang mungkin menempel pada tubuh maupun pakaian.
Kenneth menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bentuk mitigasi sekaligus respons terhadap kondisi yang berkembang setelah erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, paparan abu vulkanik belum sepenuhnya menghilang sehingga perlindungan terhadap masyarakat tetap perlu dilakukan, terutama bagi warga yang memiliki aktivitas tinggi di luar rumah. Ia juga menyebut pembagian masker menjadi tindak lanjut dari arahan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung agar jajaran pemerintah di tingkat kecamatan dan kelurahan membantu menyediakan masker bagi masyarakat. Langkah pencegahan dinilai lebih penting dibanding menunggu munculnya keluhan kesehatan akibat paparan debu atau abu. Pemerintah dan unsur masyarakat karena itu didorong terus memperkuat kesiapsiagaan selama kondisi lingkungan belum sepenuhnya kembali normal.
Perhatian terhadap ketersediaan masker juga meningkat setelah muncul indikasi kenaikan harga perlengkapan pelindung tersebut sejak abu vulkanik menyebar ke wilayah Jakarta pada Minggu, 6 September 2026. Kenneth meminta pedagang tidak memanfaatkan tingginya kebutuhan masyarakat dengan menaikkan harga secara tidak wajar. Menurutnya, masker saat ini menjadi salah satu kebutuhan penting bagi warga yang harus bepergian dan menjalankan aktivitas di luar ruangan. Ia meminta harga tetap berada dalam batas margin yang wajar sehingga perlindungan kesehatan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Warga yang kesulitan memperoleh masker karena keterbatasan stok maupun persoalan harga juga dipersilakan memanfaatkan pembagian gratis yang dilakukan secara berkala.
Pembagian masker di Jakarta Barat merupakan bagian dari berbagai langkah mitigasi yang dilakukan di sejumlah wilayah ibu kota sejak dampak abu vulkanik mulai dirasakan. Satuan Lalu Lintas Polres Metro Jakarta Barat sebelumnya membagikan ribuan masker di sejumlah ruas jalan protokol dengan distribusi difokuskan pada sepuluh persimpangan yang memiliki kepadatan kendaraan tinggi. Titik tersebut antara lain kawasan Asemka, Pesing, Grogol, Slipi, Tomang, Cengkareng hingga Daan Mogot. Petugas mengingatkan pengguna jalan agar tetap menggunakan masker dan memperhatikan perkembangan informasi mengenai kondisi udara sebelum melakukan aktivitas. Langkah serupa menunjukkan perlindungan terhadap kelompok masyarakat dengan mobilitas tinggi menjadi salah satu prioritas selama potensi paparan masih ada.
Upaya penanganan tidak hanya dilakukan melalui distribusi masker karena pemerintah daerah dan kepolisian juga melakukan penyemprotan jalan untuk mengurangi debu serta abu yang berada di permukaan. Armada penyemprot dikerahkan di sejumlah kawasan Jakarta Barat agar partikel yang mengendap tidak kembali beterbangan akibat angin maupun aktivitas kendaraan. Penyemprotan dilakukan antara lain di kawasan Kota Tua, Tomang dan Kembangan, sementara kepolisian juga menggunakan kendaraan water cannon untuk menyisir sejumlah ruas jalan protokol. Langkah tersebut diharapkan dapat melengkapi perlindungan individual melalui penggunaan masker. Penanganan secara bersamaan diperlukan karena partikel yang telah jatuh ke permukaan jalan masih berpotensi kembali terangkat ke udara ketika kondisi lingkungan kering atau dilalui banyak kendaraan.
Gerakan pembagian masker juga dilakukan di wilayah Jakarta lainnya sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi dampak abu vulkanik. Satpol PP Jakarta Pusat, misalnya, membagikan sekitar 4.000 masker kepada masyarakat yang tersebar di 44 kelurahan. Distribusi diprioritaskan pada kawasan dengan mobilitas tinggi seperti Bundaran Hotel Indonesia, pasar, stasiun kereta api, permukiman serta sejumlah ruas jalan. Di Jakarta Timur, jajaran Kecamatan Cipayung turut membagikan masker kepada pengendara yang melintas di Jalan Raya Bina Marga. Berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan upaya mitigasi dilakukan secara luas dengan menyesuaikan tingkat aktivitas masyarakat dan kondisi masing-masing wilayah.
Selain menggunakan masker, masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi dari instansi resmi mengenai kondisi abu vulkanik serta aktivitas Gunung Anak Krakatau. Warga juga diingatkan tidak langsung mempercayai informasi yang belum terverifikasi karena situasi dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan arah penyebaran material vulkanik. Bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, perlindungan terhadap saluran pernapasan dan mata menjadi bagian penting dari langkah pencegahan. Setelah kembali ke rumah, kebersihan diri dan pakaian perlu diperhatikan untuk mengurangi kemungkinan partikel terbawa masuk ke lingkungan tempat tinggal. Kewaspadaan tersebut diharapkan dapat dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan selama pemerintah terus melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan.
Kenneth memastikan kegiatan pembagian masker dapat kembali dilakukan apabila sebaran abu vulkanik kembali memberikan dampak terhadap Jakarta. Titik distribusi juga dapat diperluas menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan perkembangan kondisi lingkungan sehingga warga yang membutuhkan perlindungan dapat memperoleh masker dengan lebih mudah. Kolaborasi antara legislator, pemerintah daerah, aparat dan masyarakat menjadi bagian penting untuk meminimalkan risiko kesehatan selama periode penanganan dampak erupsi. Warga tetap diminta menggunakan perlindungan yang memadai ketika berada di luar ruangan serta tidak mengabaikan keluhan kesehatan setelah terpapar debu atau abu. Upaya preventif tersebut diharapkan membantu menjaga aktivitas masyarakat tetap berlangsung dengan aman sembari menunggu kondisi udara benar-benar kembali normal.





