Ende, 8 September 2026 – Medan berat tidak menghentikan tenaga kesehatan dan relawan untuk menjangkau masyarakat terdampak gempa di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Jalan pegunungan yang rusak, tebing dan jurang curam hingga perjalanan menggunakan kapal selama sekitar dua jam harus dilalui agar warga di daerah terpencil tetap mendapatkan pelayanan kesehatan. Salah satu tim yang menjalankan tugas tersebut adalah Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan yang ditempatkan di Puskesmas Ndona. Tim terdiri atas dokter Halik Malik bersama dua bidan dan seorang apoteker yang menjadi bagian dari TCK batch pertama. Wilayah kerja mereka mencakup delapan desa yang sebagian besar memiliki akses sulit, sementara kondisi pascagempa membuat perjalanan menuju permukiman warga menjadi semakin menantang.
Salah satu perjalanan terberat dilakukan ketika tim memberikan pelayanan kesehatan bergerak atau mobile clinic ke Desa Nila. Untuk mencapai desa tersebut, petugas harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam menggunakan mobil atau sepeda motor sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pendakian menuju permukiman warga membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam dengan medan yang melewati kawasan pegunungan. Kendaraan yang digunakan pun membutuhkan pengemudi berpengalaman karena sejumlah ruas berada di sekitar tebing dan jurang dengan kondisi jalan yang tidak sepenuhnya normal. Situasi menjadi semakin sulit setelah gempa menyebabkan kerusakan jalan dan longsor di sejumlah titik. Meski demikian, tim tetap bergerak karena sebagian masyarakat tidak memungkinkan datang sendiri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Perjalanan pulang dari Desa Nila juga membutuhkan strategi berbeda agar waktu tempuh dapat dipersingkat. Tim memilih menggunakan jalur laut melalui sebuah dermaga darurat setelah menyelesaikan pelayanan kepada masyarakat. Dari kawasan yang dikelilingi tebing dan jurang, para relawan menuju kapal motor untuk melanjutkan perjalanan menyusuri pesisir selatan Pulau Ende. Perjalanan laut tersebut membutuhkan waktu sekitar dua jam sebelum mereka kembali ke puskesmas tempat bertugas. Pilihan jalur tersebut memperlihatkan bagaimana kondisi geografis menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga pelayanan kesehatan setelah bencana. Petugas harus menyesuaikan moda transportasi dengan kondisi lapangan agar sebanyak mungkin warga tetap dapat dijangkau.
Kebutuhan pelayanan langsung semakin besar karena sejumlah fasilitas kesehatan belum dapat menjalankan fungsi secara optimal setelah gempa. Beberapa puskesmas yang sebelumnya memberikan pelayanan selama 24 jam harus mengalihkan kegiatan ke posko atau tenda kesehatan karena bangunannya mengalami kerusakan. Sebagian tenaga kesehatan setempat juga turut terdampak bencana sehingga kapasitas pelayanan menjadi terbatas pada saat kebutuhan masyarakat justru meningkat. Di Kabupaten Ende terdapat 28 puskesmas dan sedikitnya 12 di antaranya mendapatkan dukungan relawan TCK Kementerian Kesehatan. Relawan membantu memperkuat pelayanan di tenda kesehatan sekaligus bergerak dari desa ke desa untuk mencari warga yang membutuhkan pemeriksaan maupun pengobatan.
Tim kesehatan menemukan berbagai keluhan medis selama melakukan pelayanan di daerah terdampak. Masalah yang banyak dijumpai antara lain infeksi saluran pernapasan, gangguan lambung, hipertensi, nyeri persendian atau pegal-pegal hingga kesulitan tidur. Warga yang sebelumnya memiliki penyakit kronis juga menghadapi tantangan lebih berat karena akses terhadap pelayanan kesehatan terganggu setelah bencana. Dalam kondisi pengungsian, keterbatasan tempat tinggal, perubahan pola makan, kelelahan dan tekanan psikologis dapat membuat kondisi kesehatan semakin rentan. Karena itu, pelayanan bergerak tidak hanya diarahkan untuk menangani keluhan baru akibat bencana, tetapi juga memastikan pasien dengan penyakit sebelumnya tetap memperoleh pengobatan yang diperlukan.
Selain persoalan kesehatan fisik, tenaga medis menghadapi dampak psikologis yang muncul di tengah masyarakat. Sejumlah warga mengalami trauma, kecemasan dan gangguan tidur karena masih khawatir terhadap gempa susulan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tekanan psikologis yang berkepanjangan dapat memengaruhi proses pemulihan masyarakat setelah bencana. Kementerian Kesehatan kemudian memperkuat dukungan dengan mengirimkan 160 personel TCK batch kedua yang difokuskan antara lain pada pelayanan psikososial dan kesehatan mental. Mereka ditempatkan di Kabupaten Ngada, Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur sebagai kelanjutan pengerahan 206 tenaga kesehatan pada tahap pertama. Penambahan personel diharapkan membuat penanganan kesehatan pascagempa mencakup kebutuhan fisik maupun psikologis masyarakat.
Situasi di lapangan juga menuntut kesiapan tenaga kesehatan menghadapi kondisi darurat yang membutuhkan tindakan cepat. Tim menemukan kasus yang memerlukan penanganan segera, termasuk persalinan darurat serta gagal napas akibat infeksi saluran pernapasan pada anak balita. Penanganan dilakukan bersama petugas puskesmas sebelum pasien dirujuk apabila membutuhkan fasilitas dan tindakan medis lebih lanjut. Keberadaan tenaga kesehatan di dekat masyarakat menjadi sangat penting karena keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko bagi pasien dalam kondisi kritis. Pelayanan bergerak karena itu menjadi solusi sementara ketika akses masyarakat menuju puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya belum sepenuhnya pulih. Tim berusaha menyisir wilayah kerja untuk memastikan warga yang sakit di pelosok sekalipun dapat memperoleh tindakan medis secepat mungkin.
Di sejumlah lokasi, masyarakat masih bertahan di sekitar rumah dengan mendirikan tenda pengungsian mandiri di bagian depan bangunan. Sementara itu, warga dengan rumah yang mengalami kerusakan berat mendapatkan bantuan tenda dan logistik sembari menunggu proses pemulihan serta penyediaan hunian sementara. Kondisi kehidupan pascabencana membuat kesinambungan pelayanan kesehatan menjadi penting karena risiko penyakit dapat meningkat apabila masyarakat harus tinggal dalam kondisi darurat dalam waktu lama. Ketersediaan obat, tenaga medis, sanitasi, air bersih dan dukungan kesehatan mental perlu dipertahankan bersamaan dengan proses perbaikan infrastruktur. Tantangan semakin besar di wilayah yang sejak sebelum bencana memang memiliki keterbatasan kapasitas pelayanan kesehatan dasar dan akses geografis yang sulit.
Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah terus memperkuat respons melalui pengerahan tenaga kesehatan, pelayanan bergerak, tenda kesehatan dan dukungan logistik medis. Penugasan TCK juga dilakukan secara bergantian agar pelayanan dapat berlangsung selama masa tanggap darurat dan menyesuaikan perkembangan kebutuhan masyarakat. Kerusakan jalan, longsor, medan pegunungan serta ancaman gempa susulan tetap menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam setiap perjalanan menuju daerah terpencil. Namun, keberadaan petugas yang mendatangi masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah terputusnya pelayanan selama fasilitas kesehatan masih dalam tahap pemulihan. Perjalanan melewati tebing, jurang hingga laut yang dilakukan tenaga kesehatan di Ende menunjukkan besarnya tantangan memastikan masyarakat di wilayah paling sulit dijangkau tetap memperoleh hak atas pelayanan kesehatan setelah bencana.





