Jakarta, 3 September 2026 – Pemerintah Provinsi Banten menggandeng pesulap sekaligus aktor Salim Babad atau yang dikenal sebagai Master Limbad untuk menggarap film edukasi bertema budaya dan destinasi wisata Banten. Proyek tersebut akan diproduksi melalui Master Cinema Production (MCP) dengan melibatkan Insan Pariwisata Indonesia (IPI) DPD Provinsi Banten serta mendapatkan dukungan Pemprov Banten. Gubernur Banten Andra Soni menyambut positif rencana tersebut karena film dinilai dapat menjadi media kreatif untuk memperkenalkan kekayaan daerah kepada masyarakat yang lebih luas. Tidak hanya menampilkan keindahan alam, karya tersebut diharapkan mampu mengangkat nilai budaya dan tradisi yang masih dipertahankan masyarakat Banten hingga sekarang. Kolaborasi dengan insan perfilman juga menjadi bagian dari upaya mencari pendekatan promosi pariwisata yang lebih menarik dibandingkan hanya mengandalkan metode konvensional. Pemerintah daerah berharap cerita visual mengenai Banten nantinya mampu membangun ketertarikan masyarakat untuk mengenal hingga mengunjungi langsung berbagai destinasi yang ditampilkan.
Dukungan terhadap proyek tersebut disampaikan Andra Soni ketika menerima audiensi Master Limbad beserta rombongan di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Selasa, 1 September 2026. Dalam pertemuan tersebut dibahas rencana pembuatan film yang menjadikan potensi wisata dan budaya daerah sebagai bagian penting dari cerita. Andra menilai keterlibatan insan seni dapat memberikan pendekatan berbeda dalam menyampaikan kekayaan Banten kepada masyarakat. Film memiliki kemampuan menggabungkan cerita, karakter, gambar, musik, serta latar tempat sehingga sebuah destinasi dapat diperkenalkan secara lebih emosional kepada penonton. Cara tersebut juga memungkinkan budaya lokal tidak sekadar ditampilkan sebagai latar, melainkan menjadi bagian dari cerita yang memiliki nilai edukasi. Pemprov Banten pun memberikan dukungan terhadap agenda tersebut sebagai salah satu langkah memperluas promosi daerah.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Eli Susiyanti menilai Banten memiliki kekayaan wisata alam sekaligus budaya yang dapat menjadi materi kuat dalam produksi film. Sejumlah tradisi dan agenda budaya bahkan telah mendapatkan pengakuan dalam program Karisma Event Nusantara. Beberapa di antaranya adalah Seren Taun di Kasepuhan Banten Kidul, Kabupaten Lebak, Ngadu Bedug di Kabupaten Pandeglang, Festival Cisadane di Kota Tangerang, Golok Day di Kota Cilegon, serta Seba Baduy. Setiap kegiatan memiliki karakter dan latar sejarah berbeda sehingga dapat memperlihatkan keragaman identitas masyarakat Banten. Pemprov juga terus mendorong agar semakin banyak kegiatan tradisional daerah memenuhi kualifikasi untuk masuk dalam agenda nasional. Kehadiran film diharapkan memberikan saluran tambahan untuk memperkenalkan kekayaan tersebut kepada calon wisatawan.
Salah satu potensi besar yang dapat diperkenalkan melalui karya audiovisual adalah kehidupan masyarakat adat dan tradisi yang masih bertahan. Banten memiliki komunitas dengan tata kehidupan, upacara, kesenian, serta hubungan dengan alam yang menjadi daya tarik tersendiri. Namun, pengenalan budaya melalui film perlu dilakukan dengan tetap menghormati nilai dan aturan masyarakat setempat. Produksi tidak semestinya hanya mengejar gambar menarik tanpa memahami konteks budaya yang ditampilkan. Pendekatan edukatif menjadi penting agar penonton memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai makna sebuah tradisi. Jika dikerjakan dengan tepat, film dapat sekaligus menjadi dokumentasi budaya yang membantu memperkenalkannya kepada generasi muda.
Pemanfaatan film untuk promosi pariwisata memiliki potensi besar karena penonton dapat melihat gambaran destinasi sebelum memutuskan melakukan perjalanan. Pemandangan alam, aktivitas masyarakat, kuliner, tradisi, serta karakter sebuah daerah dapat dikemas menjadi cerita yang mudah diterima. Ketika sebuah lokasi menjadi bagian penting dari cerita, rasa penasaran penonton terhadap tempat tersebut dapat tumbuh secara alami. Banten memiliki keuntungan karena lokasinya relatif dekat dengan kawasan metropolitan Jabodetabek yang merupakan pasar wisatawan sangat besar. Kedekatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong perjalanan singkat maupun wisata akhir pekan. Film edukasi diharapkan menjadi salah satu pintu untuk memperlihatkan bahwa pilihan wisata di Banten tidak terbatas pada destinasi yang selama ini sudah populer.
Ketua DPD IPI Provinsi Banten Fairuz Luthfi juga melihat kekayaan wisata dan budaya daerah membutuhkan promosi yang lebih maksimal. Kolaborasi dengan Master Limbad dan industri kreatif diharapkan memberikan jangkauan komunikasi yang lebih luas kepada masyarakat. Tantangan promosi pariwisata saat ini bukan hanya menyediakan informasi mengenai sebuah destinasi, tetapi membuat masyarakat tertarik untuk memberikan perhatian. Konten audiovisual memiliki keunggulan karena dapat dipotong dan dikembangkan kembali untuk berbagai kanal digital. Cuplikan film, dokumentasi produksi, pengenalan lokasi, hingga cerita mengenai budaya yang ditampilkan dapat menjadi materi promosi tambahan. Strategi tersebut berpotensi memperpanjang dampak kampanye bahkan setelah film selesai diproduksi.
Keterlibatan Master Limbad juga memberikan daya tarik tersendiri karena dirinya telah dikenal luas masyarakat melalui dunia hiburan. Nama yang familiar dapat membantu menarik perhatian publik terhadap proyek yang membawa tema pariwisata daerah. Namun, keberhasilan film nantinya tetap sangat bergantung pada kekuatan cerita dan kemampuan menghadirkan budaya Banten secara menarik sekaligus bertanggung jawab. Unsur hiburan dan edukasi perlu dibuat seimbang sehingga pesan mengenai destinasi tidak terasa seperti promosi yang dipaksakan. Cerita yang kuat justru dapat membuat penonton mengenal sebuah tempat tanpa merasa sedang menerima materi pemasaran. Pendekatan semacam ini menjadi salah satu kekuatan industri kreatif dalam mendukung pengembangan pariwisata.
Dampak yang diharapkan tidak berhenti pada peningkatan popularitas destinasi. Bertambahnya kunjungan wisatawan berpotensi memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat apabila ekosistem lokal dipersiapkan dengan baik. Pelaku UMKM, pengelola homestay, pemandu wisata, pedagang makanan, perajin, hingga penyedia transportasi dapat memperoleh peluang dari meningkatnya aktivitas wisata. Karena itu, promosi idealnya berjalan bersama peningkatan kualitas fasilitas dan pelayanan di destinasi. Kebersihan, aksesibilitas, keamanan, informasi wisata, serta kesiapan masyarakat menjadi faktor yang menentukan pengalaman pengunjung. Film dapat membuat orang tertarik datang, tetapi kualitas destinasi menentukan apakah wisatawan mendapatkan pengalaman positif dan ingin kembali.
Kolaborasi Pemprov Banten, MCP, dan IPI juga dapat membuka peluang untuk memperkenalkan destinasi yang selama ini belum mendapatkan eksposur besar. Banten memiliki wilayah pesisir, pegunungan, kawasan pedesaan, hingga pusat kebudayaan yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman perjalanan berbeda. Tidak seluruh potensi tersebut dikenal masyarakat di luar daerah sehingga media visual dapat membantu memperluas pengenalannya. Pemilihan lokasi film dapat diarahkan untuk menampilkan keseimbangan antara destinasi populer dan kawasan yang masih membutuhkan promosi. Dengan begitu, manfaat kunjungan wisata berpotensi tersebar ke lebih banyak wilayah. Pemerintah daerah sekaligus dapat menggunakan momentum tersebut untuk membangun identitas pariwisata Banten secara lebih kuat.
Rencana film edukasi bersama Master Limbad pada akhirnya menjadi bagian dari strategi Pemprov Banten memanfaatkan industri kreatif untuk memperkenalkan daerah. Kekayaan seperti Seren Taun, Ngadu Bedug, Festival Cisadane, Golok Day, Seba Baduy, serta berbagai potensi alam menyediakan materi yang luas untuk dikembangkan menjadi cerita visual. Tantangannya adalah memastikan film mampu memberikan hiburan tanpa kehilangan unsur pendidikan dan penghormatan terhadap budaya lokal. Jika dikemas secara menarik, karya tersebut berpotensi menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum mengenal keragaman wisata Banten. Peningkatan eksposur kemudian diharapkan berkembang menjadi kunjungan wisata yang memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa film dapat menjadi salah satu instrumen promosi daerah ketika kreativitas industri hiburan dipertemukan dengan kekayaan alam dan budaya lokal.





