Jakarta, 2 September 2026 – Syngenta Indonesia meluncurkan SIMODIS, insektisida berbasis teknologi PLINAZOLIN yang dirancang untuk membantu petani mengendalikan serangan hama thrips pada tanaman cabai. Peluncuran untuk komoditas cabai tersebut menjadi yang pertama di Indonesia dan digelar di Jember, Jawa Timur, pada 27 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 285 petani dari Jember dan Banyuwangi. Inovasi ini dihadirkan untuk menjawab salah satu tantangan utama dalam budidaya cabai yang dapat memengaruhi produktivitas sekaligus kualitas hasil panen. Syngenta berharap teknologi tersebut dapat membantu petani memperoleh perlindungan tanaman yang lebih efektif dan mendukung keberlanjutan usaha budidaya cabai.
Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki permintaan tinggi dan nilai ekonomi penting bagi petani. Namun, produktivitas tanaman dapat tertekan oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca, ketidakpastian harga, hingga serangan organisme pengganggu tanaman. Thrips menjadi salah satu hama yang perlu mendapatkan perhatian karena serangannya dapat memengaruhi sejumlah bagian penting tanaman cabai. Hama tersebut dapat menyerang pucuk, daun, bunga, hingga buah sehingga pertumbuhan tanaman dan kualitas hasil panen berpotensi terganggu. Kondisi tersebut membuat pengendalian hama menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga produktivitas tanaman.
National Sales Head Syngenta Indonesia Fauzi Tubat mengatakan petani hortikultura menghadapi tiga tantangan utama, yakni kekeringan, harga komoditas yang tidak menentu, serta hama dan penyakit. Dua faktor pertama relatif sulit dikendalikan secara langsung oleh petani, sedangkan serangan hama dan penyakit masih dapat diupayakan melalui penerapan perlindungan tanaman yang tepat. Karena itu, pengembangan teknologi pengendalian hama menjadi salah satu upaya yang dapat membantu petani menghadapi tekanan produksi. Syngenta menilai pengendalian thrips yang efektif dapat membantu tanaman tumbuh lebih sehat sekaligus menjaga potensi hasil.
SIMODIS diperkenalkan dengan tiga keunggulan utama yang dirangkum dalam konsep “Jago, Unggul, dan Sempurna”. Teknologi tersebut ditujukan untuk membantu mengendalikan thrips sekaligus mendukung kondisi pucuk dan daun tanaman agar tetap sehat. Pengendalian serangan juga diharapkan dapat membantu menjaga bunga agar tidak mudah mengalami kerusakan atau kerontokan. Jika pertumbuhan tanaman dapat dipertahankan, risiko terbentuknya buah cabai yang bengkok atau memiliki kualitas rendah dapat ditekan. Dengan demikian, perlindungan tanaman tidak hanya diarahkan untuk mengurangi keberadaan hama, tetapi juga menjaga kualitas tanaman hingga tahap produksi buah.
Dalam penggunaan teknologi perlindungan tanaman, Syngenta juga menekankan pentingnya penerapan secara bertanggung jawab. Petani perlu mengikuti petunjuk penggunaan yang tercantum pada label dan memperhatikan rekomendasi teknis yang berlaku. Penggunaan secara tepat menjadi penting untuk menjaga efektivitas pengendalian hama dalam jangka panjang. Syngenta juga mendorong penerapan rotasi cara kerja bahan aktif untuk membantu memperlambat terbentuknya resistensi hama. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan hama yang lebih berkelanjutan.
Peluncuran SIMODIS di Jember juga menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang akan dilakukan di sejumlah wilayah Indonesia. Syngenta berencana memperkenalkan inovasi tersebut melalui lima lokasi untuk memperluas edukasi mengenai pengendalian thrips kepada petani. Kegiatan tersebut diharapkan memberikan kesempatan kepada lebih banyak petani untuk mengetahui teknologi perlindungan tanaman dan memahami penerapannya. Edukasi menjadi penting karena efektivitas pengendalian hama tidak hanya bergantung pada produk yang digunakan, tetapi juga ketepatan dalam mengidentifikasi serangan dan menerapkan metode pengendalian. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman petani terhadap pengelolaan tanaman cabai secara lebih menyeluruh.
Sejumlah petani yang mengikuti kegiatan peluncuran juga menyampaikan pengalaman mereka terkait penggunaan SIMODIS. Petani cabai Arif Saifur Rohman menilai penggunaan produk tersebut membantu menjaga kondisi tanaman mulai dari pucuk, daun, hingga bunga. Ia juga menyebut kualitas buah menjadi lebih baik dan jumlah buah yang bengkok berkurang. Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai respons petani terhadap teknologi yang diperkenalkan. Namun, penerapan di lapangan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tanaman, tingkat serangan, serta rekomendasi teknis yang berlaku.
Pengembangan inovasi perlindungan tanaman juga menjadi bagian dari upaya Syngenta memperkuat produktivitas sektor hortikultura Indonesia. Perusahaan sebelumnya telah memperkenalkan teknologi berbasis PLINAZOLIN untuk sejumlah komoditas, termasuk padi, bawang merah, dan cabai. Penggunaan teknologi tersebut diarahkan untuk membantu petani menghadapi berbagai jenis hama yang dapat mengurangi hasil produksi. Penguatan inovasi menjadi semakin penting ketika perubahan cuaca dan dinamika budidaya membuat tekanan terhadap tanaman semakin kompleks. Syngenta juga mendorong percepatan adopsi teknologi dengan tetap menekankan penggunaan yang sesuai dengan prinsip pertanian berkelanjutan.
Melalui peluncuran SIMODIS, Syngenta berharap petani cabai memiliki tambahan pilihan dalam menghadapi serangan thrips yang dapat mengganggu produktivitas dan kualitas panen. Teknologi perlindungan tanaman tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pengelolaan hama yang dilakukan secara tepat dan bertanggung jawab. Perluasan edukasi ke berbagai daerah juga menjadi langkah penting agar inovasi dapat dipahami dan diterapkan sesuai kebutuhan di lapangan. Dengan pengendalian hama yang lebih terarah, petani diharapkan mampu menjaga kesehatan tanaman sekaligus mempertahankan kualitas hasil panen. Pada akhirnya, peningkatan produktivitas dan kualitas cabai dapat ikut mendukung keberlanjutan usaha petani hortikultura di Indonesia.





