Jakarta, 31 Agustus 2026 – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin buka suara mengenai namanya yang masuk dalam bursa calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Budi menyatakan dirinya siap menjalankan amanah apabila Presiden Prabowo Subianto memberikan tugas tersebut secara resmi. Ia menegaskan bahwa pencalonan untuk posisi tertinggi di WHO bukan proses yang dilakukan secara pribadi, melainkan harus melalui pengajuan dari negara. Karena itu, keputusan untuk maju dalam proses tersebut pada akhirnya sangat berkaitan dengan mandat pemerintah Indonesia. Budi memilih tidak terlalu jauh membicarakan peluangnya karena tahapan pemilihan masih membutuhkan proses panjang dan melibatkan negara-negara anggota WHO.
Budi mengatakan Presiden Prabowo sebelumnya telah menyampaikan harapan agar Indonesia dapat menjadi perwakilan negara berkembang dalam kepemimpinan lembaga kesehatan dunia tersebut. Menurut Budi, negara-negara berkembang memiliki jumlah penduduk yang jauh lebih besar dibandingkan negara maju, tetapi sebagian besar masih menghadapi tantangan ekonomi dan kesehatan yang lebih berat. Kondisi tersebut membuat kepentingan negara berkembang dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih besar dalam forum kesehatan internasional. Presiden Prabowo, kata Budi, ingin kepentingan negara-negara berkembang dapat lebih terdengar dalam pengambilan keputusan di tingkat global. Amanah tersebut menjadi salah satu alasan Budi menyatakan kesediaannya apabila pemerintah benar-benar menugaskan dirinya untuk mengikuti proses pencalonan.
Menurut Budi, negara-negara yang berada dalam kelompok Global South memiliki kebutuhan dan persoalan kesehatan yang sangat beragam. Negara berkembang menghadapi tantangan mulai dari keterbatasan pembiayaan kesehatan, kesenjangan akses layanan medis, kekurangan tenaga kesehatan, hingga persoalan penyakit menular dan tidak menular. Di sisi lain, negara-negara tersebut memiliki populasi yang sangat besar sehingga kebijakan kesehatan global akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dalam jumlah besar. Karena itu, menurutnya, keberadaan wakil dari negara berkembang dalam posisi strategis di organisasi internasional menjadi penting. Indonesia dapat membawa pengalaman dan perspektif negara berkembang apabila mendapatkan kepercayaan untuk masuk dalam kepemimpinan WHO.
Budi juga menjelaskan bahwa proses pemilihan Direktur Jenderal WHO tidak dilakukan secara langsung oleh seluruh negara anggota sejak awal. Tahapan pertama akan berlangsung pada Januari 2027 ketika Dewan Eksekutif WHO memilih tiga kandidat untuk melanjutkan proses. Setelah tiga nama tersebut ditetapkan, tahap berikutnya dilakukan melalui pemungutan suara oleh seluruh negara anggota WHO. Pemilihan akhir dijadwalkan berlangsung pada Mei 2027 dengan prinsip setiap negara anggota memiliki satu suara. Dengan mekanisme tersebut, perjalanan menuju posisi Direktur Jenderal WHO masih cukup panjang dan peluang setiap kandidat akan sangat bergantung pada dukungan yang berhasil diperoleh selama proses berlangsung.
Nama Budi Gunadi Sadikin masuk dalam daftar calon yang diusulkan untuk posisi Direktur Jenderal WHO bersama sejumlah kandidat dari negara lain. Daftar tersebut mencakup Menteri Kesehatan Qatar Hanan Mohammed Al-Kuwari, Hanan Balkhy yang diusulkan Arab Saudi, serta Hans Kluge yang merupakan Direktur Regional WHO untuk Eropa dan diusulkan Belgia. Munculnya beberapa kandidat dari berbagai kawasan menunjukkan persaingan untuk posisi tersebut akan berlangsung cukup ketat. Setiap negara tentu memiliki kepentingan masing-masing dalam menentukan calon yang dianggap mampu membawa agenda kesehatan global. Indonesia pun perlu membangun dukungan diplomatik apabila Budi nantinya benar-benar ditugaskan untuk mengikuti tahapan pencalonan tersebut.
Budi sebelumnya juga berhati-hati ketika ditanya mengenai kabar dirinya masuk dalam bursa calon Dirjen WHO. Ia menjelaskan bahwa posisi tersebut bukan jabatan yang dapat dicalonkan seseorang atas keputusan pribadi. Kandidat harus mendapatkan pengajuan resmi dari negara yang bersangkutan sehingga proses pencalonan memiliki dimensi diplomatik yang kuat. Karena itu, Budi menunggu keputusan dan arahan resmi pemerintah sebelum berbicara lebih jauh mengenai pencalonannya. Sikap tersebut menunjukkan bahwa proses menuju pemilihan Dirjen WHO tidak hanya berkaitan dengan rekam jejak kandidat, tetapi juga membutuhkan dukungan negara di tingkat internasional.
Apabila benar-benar maju, Budi akan membawa pengalaman sebagai Menteri Kesehatan Indonesia dalam menghadapi berbagai persoalan kesehatan nasional. Selama menjabat, ia terlibat dalam sejumlah agenda transformasi sistem kesehatan, penguatan layanan primer, peningkatan kualitas rumah sakit, serta pengembangan program kesehatan masyarakat. Pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu modal dalam memperkenalkan perspektif Indonesia kepada komunitas kesehatan internasional. Namun, posisi Direktur Jenderal WHO memiliki cakupan tanggung jawab yang jauh lebih luas karena harus menangani persoalan kesehatan yang melibatkan hampir seluruh negara di dunia. Kandidat terpilih nantinya dituntut mampu membangun koordinasi internasional sekaligus menghadapi berbagai kepentingan negara anggota yang tidak selalu sama.
Posisi Direktur Jenderal WHO memiliki peran penting dalam menentukan arah organisasi menghadapi berbagai persoalan kesehatan global. WHO terlibat dalam koordinasi penanganan wabah, penyusunan pedoman kesehatan internasional, penguatan sistem kesehatan negara anggota, serta berbagai program untuk mengurangi kesenjangan layanan kesehatan. Organisasi tersebut juga memiliki peran dalam merespons keadaan darurat kesehatan yang dapat menyebar lintas negara. Karena itu, pemilihan Dirjen WHO tidak hanya menjadi persoalan internal organisasi, tetapi juga menjadi perhatian negara-negara yang berkepentingan terhadap arah kebijakan kesehatan dunia. Kandidat yang terpilih nantinya akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan negara maju dan negara berkembang.
Budi menilai kepentingan negara berkembang perlu memperoleh ruang yang lebih besar dalam agenda kesehatan internasional. Banyak negara berkembang masih memiliki persoalan mendasar seperti akses obat-obatan, pembiayaan layanan kesehatan, fasilitas kesehatan yang belum merata, serta keterbatasan tenaga medis. Selain itu, perubahan iklim dan kondisi lingkungan juga semakin memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat di berbagai wilayah. Negara berkembang sering kali menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak tersebut meskipun memiliki sumber daya yang lebih terbatas untuk menghadapinya. Perspektif tersebut menjadi salah satu isu yang dapat dibawa Indonesia apabila memperoleh kesempatan untuk terlibat lebih jauh dalam kepemimpinan WHO.
Indonesia sendiri memiliki pengalaman dalam menjalankan program kesehatan berskala besar dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan kondisi geografis yang tersebar. Tantangan layanan kesehatan di Indonesia mencakup wilayah perkotaan, pedesaan, daerah kepulauan, hingga kawasan yang sulit dijangkau. Pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi negara lain yang menghadapi persoalan serupa. Jika Budi mendapatkan mandat untuk maju, pengalaman Indonesia tersebut berpotensi menjadi salah satu bagian dari visi yang ditawarkan dalam proses pemilihan. Namun, keberhasilan pencalonan tetap akan sangat bergantung pada kemampuan diplomasi Indonesia dalam memperoleh dukungan dari negara-negara anggota WHO.
Proses pencalonan juga membutuhkan komunikasi politik dan diplomatik yang intensif karena setiap negara anggota memiliki hak suara dalam pemilihan akhir. Indonesia harus mampu menjelaskan visi kandidat sekaligus menunjukkan kontribusi yang dapat diberikan kepada organisasi kesehatan dunia. Dukungan dari negara-negara berkembang dapat menjadi salah satu faktor penting apabila Indonesia ingin memperkuat posisi kandidatnya. Di sisi lain, hubungan dengan negara maju juga tetap perlu dijaga karena WHO membutuhkan kerja sama lintas kawasan dalam menjalankan berbagai programnya. Karena itu, proses menuju pemilihan Dirjen WHO akan menjadi bagian dari diplomasi kesehatan Indonesia di tingkat internasional.
Budi menegaskan dirinya tidak akan mengambil langkah sendiri dalam proses tersebut. Jika Presiden memberikan tugas, ia menyatakan akan menjalankan amanah tersebut sesuai dengan keputusan pemerintah. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa posisi Indonesia dalam bursa calon Dirjen WHO masih sangat bergantung pada keputusan resmi negara. Pemerintah juga perlu menentukan strategi pencalonan, termasuk dukungan diplomatik dan agenda yang akan dibawa kandidat apabila proses tersebut benar-benar dilanjutkan. Dengan demikian, pencalonan Budi bukan hanya persoalan pribadi seorang menteri, melainkan bagian dari kepentingan dan representasi Indonesia dalam organisasi kesehatan dunia.
Tahapan pemilihan yang masih panjang membuat Budi dan pemerintah belum perlu mengambil kesimpulan mengenai hasil akhirnya. Seleksi awal pada Januari 2027 akan menjadi tahap penting karena hanya tiga kandidat yang akan melaju ke proses berikutnya. Setelah itu, persaingan akan memasuki tahap yang lebih menentukan ketika seluruh negara anggota WHO memberikan suara pada Mei 2027. Setiap perkembangan dukungan diplomatik selama beberapa bulan mendatang dapat memengaruhi posisi kandidat. Karena itu, Indonesia memiliki waktu untuk mempersiapkan strategi dan memperkuat komunikasi dengan negara-negara anggota sebelum proses pemilihan memasuki tahapan akhir.
Masuknya nama Budi Gunadi Sadikin dalam bursa calon Direktur Jenderal WHO sekaligus menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkenalkan pengalaman dan kepentingan negara berkembang di tingkat global. Budi menyatakan siap apabila mendapatkan tugas resmi dari Presiden Prabowo Subianto untuk mewakili Indonesia dan negara-negara berkembang dalam proses tersebut. Namun, keputusan akhir mengenai pencalonan dan strategi pemerintah masih harus menunggu tahapan resmi yang akan dimulai dengan proses seleksi oleh Dewan Eksekutif WHO. Dengan pemilihan akhir yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2027, perjalanan menuju posisi Dirjen WHO masih panjang dan akan melibatkan persaingan serta diplomasi antarnegara. Jika Indonesia akhirnya secara resmi mendorong Budi, pencalonan tersebut akan menjadi salah satu agenda penting diplomasi kesehatan Indonesia sekaligus kesempatan untuk memperkuat suara negara-negara berkembang dalam menentukan arah kesehatan global.





